Festival Arakan Pengantin Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Kota Pontianak Ke 246

Festival Arakan Pengantin yang dimulai dari Museum Kalimantan Barat melewati Jalan Ahmad Yani menuju Masjid Raya Mujahidin, Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (15/10/2017) pagi. Arakan Pengantin kali ini diikuti delapan kelompok yang terdiri dari enam kecamatan di Kota Pontianak, serta dari Dinas Pendidikan Kayong Utara dan Bank Kalbar yang turut menyemarakkan festival dalam rangka HUT Kota Pontianak yang ke 246 ini

Festival ini kali pertama digelar tahun 2011 dalam rakaian Hari Jadi Kota Pontianak yang diperingati setiap 23 Oktober. Tahun ini, delapan kelompok peserta arak-arakan pengantin ini dilepas langsung Wali Kota Pontianak, Sutarmidji dan Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono dari halaman Museum Negeri Provinsi Kalbar

Peserta kemudian berparade dari halaman Museum Negeri melewati Jalan Ahmad Yani menuju Masjid Raya Mujahidin. Acara akan berlangsung pukul 06.00 hingga selesai di kawasan Car Free Day.

Keindahan busana, barang antaran dan musik yang mengiringi menjadi tontonan menarik. Tak hanya dibikin beragam bentuk, beberapa barang antaran sudah jarang ditemui pada arakan pengantin sesungguhnya. Seperti rumah jebah, dan pokok pacar. Bahkan dalam lomba ini,ada peserta yang menjadikan kue kancing sebagai hiasan rumah jebah. Kue kancing sempat populer di era 90-an.

Agustus lalu, Arakan Pengantin Pontianak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WTB) oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan RI tahun 2017.

Sutarmidji berharap, ke depannya festival ini terus berlanjut. Setiap tahunnya, harus ada sesuatu yang baru dalam festival ini agar terus menghidupkan akar budaya bangsa. “Arak-arakan pengantin ini bukan dilihat dari lombanya, tapi yang kami pentingkan adalah melestarikan kreasi pengantin Melayu Pontianak,” ujar dia yang hari itu mengenakan baju telok belanga.

Dia menyinggung kreasi baju pengantin yang perlu inovasi. Ke depan perlu mengadakan lomba kreasi pakaian pengantin Melayu Pontianak. “Supaya ada inovasi-inovasinya. Tidak hanya kalengkang dengan ini, kombinasi warna juga harus,” jelasnya.

Syafaruddin Usman, juri dalam lomba ini mengatakan even ini sebagai ajang pengenalan kepada generasi muda, terutama di sekolah. “Ini bisa menjadi muatan lokal. Masak kita tidak mengenal muatan lokal kita,” katanya.

Festival ini dapat menumbuhkembangkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya yang hampir ditinggalkan ini. Adanya festival semacam ini memperkenalkan kepada generasi muda, sehingga seni budaya kembali muncul ke permukaan.

Sutarmidji juga menyoroti minat generasi muda yang kurang meminati kesenian musik tanjidor. Midji akan mendorong musik tanjidor bisa menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah-sekolah. “Saya melihat ini masih perlu lagi, nanti akan kami bina. Karena tanjidor itu ada standarnya, alat musik mana saja yang dominan,” pungkasnya yang memberikan penghargaan berupa uang satu juta rupiah kepada delapan grup musik tanjidor.